Tajam24.Com, sebuah insiden yang mencuri perhatian publik terjadi di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bangkalan, Jawa Timur, baru-baru ini. Di tengah riuhnya gelombang demonstrasi mahasiswa yang menyuarakan aspirasi mereka, sebuah pemandangan tak biasa terekam kamera: seorang anggota dewan terlihat tersenyum tipis, seolah menahan tawa, saat menyadari bahwa salah satu orator paling lantang di antara kerumunan adalah putra kandungnya sendiri. Momen unik ini segera menjadi sorotan, menggambarkan perpaduan antara dinamika politik dan ikatan keluarga yang tak terduga.
Peristiwa ini bermula pada Senin, 18 Mei 2026, ketika puluhan mahasiswa dari berbagai elemen turun ke jalan, menggelar aksi protes di pusat pemerintahan Bangkalan. Dengan spanduk-spanduk dan megafon, mereka menyuarakan berbagai isu daerah yang menjadi perhatian publik, menuntut respons dan tindakan nyata dari para wakil rakyat. Seperti biasa, sejumlah anggota DPRD Bangkalan hadir di garis depan, bertugas menemui para demonstran untuk mendengarkan langsung tuntutan serta aspirasi yang disampaikan. Kehadiran mereka merupakan bagian dari mekanisme demokrasi untuk menjembatani suara rakyat dengan kebijakan pemerintah daerah.
Di antara para wakil rakyat yang berhadapan langsung dengan massa, terlihat Mohammad Syukur, seorang anggota DPRD Bangkalan dari Fraksi Partai NasDem. Pria yang kala itu mengenakan kemeja berwarna kuning kunyit tersebut berdiri di barisan belakang jajaran pimpinan dewan, dengan saksama memperhatikan jalannya orasi. Awalnya, tidak ada yang istimewa dari kehadirannya; ia hanya menjalankan tugasnya sebagai seorang legislator yang berinteraksi dengan konstituen. Ia hadir dengan sikap profesional, siap menghadapi berbagai kemungkinan dinamika di lapangan, termasuk tensi yang kerap menyertai aksi demonstrasi.
Namun, suasana tiba-tiba berubah menjadi lebih personal bagi Syukur. Di tengah gegap gempita orasi yang berapi-api, seorang mahasiswa muda naik ke atas mobil pengeras suara. Dengan semangat membara, ia mulai menyampaikan orasinya, mengkritik kebijakan dan kinerja pemerintah daerah dengan argumen yang lugas. Syukur, yang awalnya hanya mendengarkan secara umum, mulai merasakan keakraban pada suara dan gaya sang orator. Ada gestur dan intonasi yang begitu familiar, seolah-olah ia pernah mendengarnya setiap hari di rumah.
Perlahan namun pasti, realisasi itu menghantamnya. Mahasiswa muda yang berdiri tegap di atas mobil, melambaikan tangan, dan menyerukan tuntutan dengan penuh keyakinan itu ternyata adalah putranya sendiri. Momen pengakuan ini, yang berlangsung di hadapan puluhan mata demonstran dan rekan-rekan dewan, sontak menciptakan dilema unik bagi Syukur. Di satu sisi, ia adalah seorang ayah yang mungkin merasakan kebanggaan melihat putranya berani menyuarakan pendapat di muka umum. Namun, di sisi lain, ia adalah seorang anggota dewan yang sedang didemo, dengan putranya sebagai salah satu motor penggerak kritik tersebut.
Mohammad Syukur, dalam keterangannya kepada awak media pada Jumat, 22 Mei 2026, mengungkapkan kejutan yang ia rasakan. "Kalau tidak salah demonya hari Senin (18/5). Waktu itu saya ikut menemui pendemo di belakang ketua DPRD Bangkalan. Tapi tidak tahu kalau anak saya mau berorasi," ujarnya, mengenang kembali momen tak terduga tersebut. Pengakuan itu baru muncul setelah sang putra naik ke atas mobil sound system dan mulai berorasi, menguak identitasnya di tengah keramaian. Pengungkapan ini mengubah dinamika pertemuan dari sekadar interaksi publik menjadi sebuah persimpangan antara tugas negara dan ikatan darah.
Reaksi Syukur terhadap situasi tersebut tidak dapat ia sembunyikan. Senyum tipis, yang berusaha ia tahan agar tidak menjadi tawa lepas, terpancar jelas di wajahnya. Senyum itu bukan senyum meremehkan, melainkan campuran antara rasa bangga seorang ayah dan kegelian atas ironi situasi yang sedang ia alami. Di tengah momen yang seharusnya penuh ketegangan, senyum itu menjadi ekspresi jujur dari perasaannya yang campur aduk. Ia berdiri di antara rekan-rekan sesama anggota dewan, yang tak butuh waktu lama untuk menyadari keunikan situasi tersebut.
Situasi semakin ramai ketika rekan-rekan Syukur di DPRD mengetahui fakta bahwa salah satu orator adalah putranya. "Gojlokan" atau candaan ringan pun tak terhindarkan. Para kolega Syukur mulai melontarkan gurauan, menggodanya atas situasi yang menggelitik tersebut. Candaan ini, meskipun dimaksudkan untuk mencairkan suasana, justru membuat Syukur semakin sulit menahan senyumnya. Baginya, tekanan untuk tetap menjaga citra profesional di tengah godaan personal dan profesional menjadi tantangan tersendiri. Ini adalah ujian kecil yang menunjukkan bagaimana kehidupan pribadi seorang pejabat publik seringkali tak terpisahkan dari peran publiknya.
Akhirnya, untuk menghindari semakin menjadi pusat perhatian dan agar tidak mengganggu konsentrasi putranya yang sedang berorasi, Syukur memilih untuk mundur. "Memang saya tidak bisa menahan senyum karena gojlokan (bercandaan) teman anggota lainnya. Sampai saya memilih masuk biar tidak mengganggu konsentrasi anak saya yang berorasi," bebernya. Keputusan ini menunjukkan kebijaksanaan seorang ayah dan seorang pejabat. Ia menghargai hak putranya untuk menyuarakan pendapat secara bebas, tanpa ingin kehadirannya menjadi beban atau distraksi dalam aksi demonstrasi tersebut. Langkahnya ini juga mencerminkan kesadaran akan pentingnya menjaga fokus pada pesan yang ingin disampaikan oleh para demonstran.
Kisah Mohammad Syukur dan putranya ini menjadi sebuah anekdot menarik yang memperlihatkan sisi manusiawi dari kancah politik. Ia menggambarkan bagaimana ikatan keluarga dapat bersinggungan dengan ranah publik, menciptakan momen-momen yang tak terduga dan penuh makna. Di satu sisi, ada semangat aktivisme kaum muda yang tak gentar mengkritik kekuasaan, bahkan ketika kekuasaan itu secara tidak langsung diwakili oleh orang tua sendiri. Di sisi lain, ada sosok seorang ayah yang, di balik jubah politiknya, tetap menyimpan rasa bangga dan perhatian terhadap jalan yang dipilih anaknya. Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap jabatan dan peran publik, ada individu dengan cerita pribadi yang kaya, yang terkadang tak terduga. Ini adalah potret nyata demokrasi di mana setiap suara, termasuk dari generasi penerus, memiliki ruang untuk didengar, bahkan jika itu datang dari "anak sendiri" yang berhadapan langsung dengan "ayah sendiri" di panggung politik.
Sumber: news.detik.com